Ary Mozta

Saya Tidak Akan Membeli Lumia 925 Karena..

Beberapa hari yang lalu, saya jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta, sampai saya tidak bisa berhenti memikirkannya. Saya jatuh cinta pada Nokia Lumia 925. Bentuknya memukau, warnanya menarik, plus kameranya – dan kemampuan low-light photography – yang mumpuni membuat saya berpikir serius tentang membelinya.

Hari ini, saya memutuskan untuk tidak akan membeli Lumia 925 yang saya idam-idamkan. Kenapa? Karena Windows Phone 8; as simple as that.

Saya lumayan beruntung bisa mendapatkan Huawei Ascend W1, handset Windows Phone 8 besutan Huawei (dan Smartfren), secara gratis karena keperluan pekerjaan. Setelah menghabiskan 24 jam bersama handset ini, saya bisa bilang kalau Huawei Ascend W1 layak dimiliki.

The Good

Baterai Ascend W1 ini mencengangkan! Satu kali charge dan smartphone ini bisa bertahan hingga 14 jam lebih, jauh lebih lama dari Google Nexus 4 yang saya gunakan sehari-hari. Seluruh akun (email, social media, dll.) yang saya gunakan saya setup di Ascend W1, jadi frekuensi penggunaan kurang lebih sama.

Saya juga suka design body-nya. Sederhana, tapi fungsional. Enak digenggam tangan. Bahkan warna birunya pun menarik; trust me, I don’t like colourful smartphones.

Ascend W1 dibekali processor Snapdragon S4 Dual-Core berkecepatan 1.2GHz dan RAM 512MB. Smarphone ini juga mengusung Adreno 305, chip grafis yang kemampuannya bisa diandalkan. Hasilnya, apps dan games berjalan mulus tanpa kendala.

Layar 4-inci Ascend W1 juga sudah menggunakan teknologi IPS. Resolusinya 800×480 pixel, tidak ada yang istimewa. Meski begitu, tampilan layar smartphone ini cerah dan menyenangkan di mata.

Harganya juga menggugah selera. Mine was given for free, tapi survei ke beberapa gerai yang menjual smartphone ini membuat saya jadi tahu kalau harganya berkisar di antara 1,3-1,4 juta.

Ascend W1 punya konektivitas EVDO Rev. B. Sayangnya, provider yang membundling smartphone ini tidak punya jaringan yang cukup bagus, setidaknya di daerah saya, sehingga kecepatan koneksi internetnya tetap saja terbatas. Berpindah ke mode GSM juga tidak membantu – ya, Ascend W1 bisa digunakan di jaringan GSM dan CDMA – karena hanya bisa memanfaatkan jaringan Edge dan bukan 3G.

Tidak ada yang istimewa dari kamera smartphone ini, tapi kemampuannya tidak jelek juga. Kamera 5-megapixel yang dibenamkan di Ascend W1 bisa mengambil gambar bagus, sepanjang kondisi pencahayaannya mencukupi. Di ruangan gelap, foto tanpa flash nyaris tidak mungkin karena masalah-masalah kecil seperti fokus yang tidak mau mengunci.

The Bad

Windows Phone 8! Saya pernah mencoba Windows Phone 8 sebelumnya, tapi hanya sekilas. Awalnya saya pikir operating system ini cukup baik dan menawarkan perubahan, tapi setelah mencoba lebih jauh saya justru lebih nyaman dengan Android atau iOS.

Beberapa jam pertama, saya seru sendiri mengutak-atik beragam menu dan fitur di smartphone baru saya. Mengubah grid, menambahkan apps dan games, semua mudah dan terasa menyenangkan.

Lewat dari masa ‘bulan madu’, Windows Phone 8 mulai terasa biasa saja. Tidak istimewa. Grid-nya menarik, tapi sebentar saja membosankan. Berbagai informasi yang saya butuh – misalnya notifikasi – memang tersedia dengan mudah, tapi tidak lebih mudah dari Android atau iOS.

Saya enggan keluar dari comfort zone saya dan mempelajari operating system ini lebih jauh. Simple, elegan, tapi lagi-lagi tidak istimewa. Mungkin tidak fair kalau saya mengambil keputusan hanya dari mencoba Windows Phone 8 di ponsel low-to-mid end seperti Ascend W1, tapi saya senang tidak impulsif dan langsung meminang Lumia 925 saat saya jatuh cinta; rasanya saya akan lebih banyak kecewa.

Jadi…

Tidak bisa dipungkiri, Ascend W1 adalah handset yang handal. Bentuknya bagus, fiturnya lengkap, kemampuannya tidak perlu diragukan dan harganya sangat, sangat terjangkau. Terlepas dari masalah jaringan Smartfren yang (terkadang) kurang bisa diandalkan, smartphone ini sangat layak untuk dimiliki.

As for Lumia 925, biarlah dia hidup dalam mimpi saya setiap hari. Mencintai tidak harus memiliki, right?

Exit mobile version